Refleksi Ramadhan : Sahabat

 

WhatsApp Image 2017-05-21 at 19.07.34
Keluarga Muslim Delft

Bagi saya, salah satu kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT adalah saat bisa bersahabat dan dipertemukan dengan orang-orang yang saat berkumpul, maka terasa iman meningkat, lisan terjaga, hati dan pikiran menjadi tenang. Seperti halnya saat masih SMA kemudian kuliah , bekerja dan studi Master di Delft. Alhamdulillah berada pada lingkungan ini yang kemudian menjadikan saya merasa selalu diingatkan untuk berada pada barisan kebaikan. Didalam pertemuan tentunya ada perpisahan, semoga pertemuan yang singkat ini di dunia menjadi saksi kelak di akhirat agar kita bisa berkumpul di surga Allah SWT, di tempat yang tak akan berpisah. Semoga Allah SWT istiqomahkan kita di dalam barisan kebaikan hingga akhir hayat kita. Aamiin

Refleksi Ramadhan : Sahabat

Refleksi Ramadhan Hari Pertama

masjid turki
Sultan Ahmet Moskee Delft

Selama Ramadhan 1438 H, memiliki keinginan untuk menuliskan sebuah refleksi, pemikiran singkat terlintas, dan menjadi catatan selama perjalanan selama Ramadhan tahun ini. Saat ini memasuki tahun kedua berpuasa di Belanda, disaat musim panas, di saat kondisi berpuasa sekitar 18 jam. Waktu yang singkat antara berbuka puasa dan sahur. Shalat Isya dan taraweh tengah malam. Saat jam 10 malam masih terlihat cerah dengan kondisi cuaca seperti di Indonesia. Kondisi yang tak hanya tentang menahan haus, lapar dan kantuk, tetapi juga menahan pandangan, pikiran dan perasaan. 

Saat ini ingin merefleksikan tentang sejauh mana kualitas Ramadhan yang telah dicapai, kurang lebih mungkin sekitar 15 tahun sudah menjalankan puasa Ramadhan, tetapi dari perjalanan 15 tahun itu, adakah sebuah perubahan signifikan dari Ibadah yang dijalani? Apakah taraweh yang dijalani, menjadikan setiap harinya bisa bangun di malam hari menjalani Qiyamul Lail. Apakah kemudian tilawah yang seringkali dijalani selama Ramadhan semakin meningkatkan akfitas tilawah pasca Ramadhan. Apakah puasa yang dijalankan semakin membuat istiqomah menjalani puasa sunnah pasca Ramadhan. Apakah puasa yang menjadikan diri menjaga pandangan, perkataan, dan sikap, kemudian pasca Ramadhan menjadikan diri ini orang yang bertutur kata sopan, menjaga setiap tindak tanduk? Kalau hanya biasa-biasa saja, lalu bisa jadi hakikatnya perjalanan puasa Ramadhan 15 tahun yang telah dijalani, hanya sebatas menjalani rutinitas, melepas kewajiban, pemaknaan yang dangkal, sebatas menahan haus dan lapar.

Hanya sebatas itukah puasa yang dijalani? Sehingga benar bahwa banyak yang berpuasa, tapi hanya sekedar haus dan lapar yang didapatkan. Sejatinya puasa Ramadhan menjadikan diri ini lebih peka, terhadap permasalahan sosial, lebih berempati terhadap orang yang kekurangan, lebih baik di dalam menjaga sikap dan tingkah laku. Ramadhan tahun ini semoga menjadikan cerminan tak hanya sekedar membahasa tentang berbuka dan sahur, bukan tentang kapan berbuka puasa bersama, menu berbuka, dan cerita tentah lelahnya berpusa. Bukan, semoga bukan itu menjadi inti Ramadhan yang dijalani di tahun 1438H, tetapi tentang peran sosial yang bisa diselesaikan, tentang kemanfaatan, tentang target yang tak sebatas di lembaran ibadah, tapi tentang peran nyata dari target ibadah, bukan tentang apa yang didapatkan, tetapi tentang apa yang diberikan. Aamiin

Van Hasseltaan, 28/05/2017; 01:40 

Refleksi Ramadhan Hari Pertama

Hidup yang tak Sebanding

20160127_092009

Jika saat ini kita memiliki 2 pilihan, pilihan pertama yaitu memilih tidak makan 2 hari, tersiksa oleh lapar selama 2 hari, tetapi setelah 2 hari itu maka kita dipastikan tak akan pernah kelaparan dan terjamin kenyang selama-lamanya, atau pilihan kedua, yaitu makan enak selama 2 hari, tetapi setelah 2 hari kenikmatan akan diganti dengan kelaparan selama-lamanya, manakah yang akan kita pilih? Tentu sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab karena manusia yang normal akan cendrung memilih pilihan pertama, lapar sejenak, tetapi kenikmatan selamanya. 

Logika yang sama kita gunakan, saat dihadapkan pilihan kehidupan dunia dan akhirat, manakah yang akan kita pilih? Seringkali kita menukarkan sesuatu hal yang tak sebanding, yang kita lihat ternyata semu. Kita dengan mudahnya mau menukarkan kenikmatan dunia yang fana dengan sesuatu yang nantinya akan kekal, di potongan ayat ayat At-Taubah : 38

أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا مِنَ الْآخِرَةِ ۚ فَمَا مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا قَلِيلٌ

“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit. “

Hari ini kita di puji, esok kita bisa di caci. Hari ini kita mendapatkan kelapangan harta, esok kita bisa kehilangan harta. Banyak yang memiliki kelebihan ilmu, tapi ilmu yang didapatkannya hanya sebatas pemuas pemenuhan kebutuhan diri. Banyak mengenalnya di dunia sebagai orang terpandang, tapi tak menjamin dirinya masuk kedalam surga. Bertahanlah sedikit saja, tak lama, hanya sebentar, lelah kelak berganti bahagia, sakit kelak berganti tawa,  kuatkanlah hati kita untuk bersabar menjaga lisan agar tak menyakiti orang lain, menjaga pikiran untuk menghindari pemikiran yang membawa keburukan, menjaga tindakan agar tak ada yang terdzholimi atas sikap yang kita lakukan.

Bertahanlah karena kebahagiaan hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang berjuang di dalam kebaikan.

Van Hasseltlaan, 26/05/17. 00:39

Hidup yang tak Sebanding

Datang dan Pergi

20151204_161151

Sore ini saat perjalanan dari kostan ke perpustakaan kampus, dipertigaan perempatan jalan Roland Hostlaan, terlihat sejumlah pejalan kaki, sepeda mobil, dan beberapa polisi berkumpul di perempatan jalan tersebut. Mengelilingi seseorang yang sudah tergeletak di jalan dengan di tutupi oleh selimut untuk menutupi tubuhnya.  Saya memperkirakan seseorang tersebut adalah korban yang di tabrak mobil . Tak ada pergerakan dari korban tersebut, sepertinya korban tersebut sudah meninggal, Tak lama saya memandangi kejadian ini, berhenti sejenak, kemudian melanjutkan perjalanan. Didalam batin saya, muncul sebuah pertanyaan “Ajal tak akan pernah menunggu ketika kita siap, jika sudah waktunya, maka tak berkurang sedikitpun dan tak bertambah sedetikpun. 

Kejadian singkat yang terlihat oleh mata saya sendiri, menyadarkan saya tentang waktu yang singkat yang saya jalani. Semua kebahagiaan, rasa senang, ambisi, mimpi, kekayaan, dan segalanya dalam sekejap akan hilang. Saya tak bisa menduga apa yang dipikirkan oleh korban tersebut menjelang akhir hidupnya, dan pastinya Ia pun tak akan menduga bahwa perjalanan yang dilalui pada hari ini adalah perjalanan terakhir hidupnya di dunia. 

Kejadian ini menjadikan saya lebih menyadari bahwa tidak hanya yang berusia senja saja yang akan mendekati kematian, tetapi yang muda pun bisa meninggalkan di dunia ini lebih cepat, dengan skenario kematian yang tidak pernah kita ketahui sebelumnya. Harusnya kejadian yang saya lihat ini membuka hati lebih luas bahwa keinginan tak akan pernah habis, seringkali aktifitas dan rutinitas menyibukkan hari. Ibadah seadanya, mulut yang tak terjaga, pandangan yang tak dialihkan saat melihat yang haram, pendengaran yang digunakan bukan untuk mengingat-Nya. Saat sepersekian detik menjelang ajal kita tersadarkan dunia ini hanya sementara, dan akhirat yang dahulu kita hindari, akan kita hadapi, disaat itu pula kita sadar bahwa banyak yang kita perjuangkan dan kesenangan yang kita lakukan didunia justru tak berarti apa-apa, di saat itu pula kita sadar bahwa penyesalan tak berarti lagi hanya bisa menerima konsekuensi yang dijalani saat di dunia.

Delft, 20/05/17,15:11

Datang dan Pergi

Belajar dari Kegagalan

 

_DSC3141

Menceritakan kegagalan sebenarnya seperti membuka kenangan lama yang enggan diperlihatkan, tapi menulis ini sebagai sebuah refleksi kepada saya pribadi dan menjadi bahan cerita kepada anak-anak saya kelak bahwa tak ada kehidupan yang instan di dalam hidup, seperti halnya kisah papah saya saat dahulu harus menjadi tukang bangunan, supir angkot, tidak memiliki rumah tetap saat sekolah karena harus hidup menumpang dari rumah ke rumah temannya hingga merantau ke Nusa Tenggara Timur, Kupang. Papah bercerita tentang keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarganya dahulu, tetapi dengan segala keterbatasan yang dimiliki papah, papah membuktikan bahwa kegagalan dan kesulitan adalah sebuah fase yang harus dijalani untuk mensyukuri segala kenikmatan yang akan didapatkan nantinya. Papah selalu menyemangati anaknya untuk terus belajar dan tekun berusaha, papah semangat menyelesaikan studi master padahal usianya saat itu menjelang pensiun, tetapi papah mengatakan bahwa papah ingin anaknya lebih baik, papah menunjukkan tak ada kata terlambat untuk menimba ilmu, meskipun usia sudah senja. Terinspirasi dari papah saya ingin menuliskan beberapa kegagalan berkesan yang saya dapatkan, mungkin tak sebanding dengan kisah papah, tapi kegagalan ini untuk menjadi pengingat saat mendapatkan keberhasilan dan menjadi penyemangat saat mengalami kegagalan dengan memaknai kegagalan hanyalah sebuah bagian dari proses kehidupan dan bukan akhir dari kehidupan.

Gagal di semua seleksi perguruan Tinggi Negeri yang saya ikuti

8 Tahun yang lalu, tepatnya di tahun 2009, saya yang baru lulus dengan nilai rata-rata ujian nasional 8 mendekati 9, dengan predikat ranking 1 di akhir semester 1 saat kelas 12 sedang menanti dan berdebar melihat hasil ujian masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN). Saya yang bermimpi untuk melanjutkan studi di kampus-kampus terbaik di Indonesia, menanti menjelang tengah malam untuk melihat hasil seleksi. Refresh browser berkali-kali untuk bisa mengakses hasil ujian, dan akhirnya hasil ujian bisa dilihat, dengan tulisan  kurang lebih “Mohon Maaf anda belum berhasil”. Berat menerima kegagalan pada saat itu, di dalam hati, “Bagaimana mungkin hasil Ujian Nasional yang hampir mendekati sempurna, rangking 1 di salah satu SMA terfavorit di Provinsi Banten, gak keterima di semua PTN” merasa hasil tidak adil karena banyak rangking di bawah saya diterima di ITB, UGM,UI,UNDIP,UNPAD,UNJ,IPB. Tidak mau menyerah, hingga beberapa kali ujian masuk perguruan tinggi negeri saya ikuti, baik seleksi bersama atau seleksi mandiri kampus tersebut :  STAN, STIS, ITB,UGM,UNDIP,UI,UNPAD, tetapi hasil tetap sama, yaitu : GAGAL. Tidak ada yang terjadi tanpa sebab, efek kegagalan adalah sebuah hasil dari tindakan yang dilakukan dimasa lalu.

Sebelum kegagalan tersebut, saya merasa adalah siswa SMA yang mampu meraih kampus impian kelak pasca lulus, tapi tanpa sadar saya memiliki perasaan bangga berlebihan, sehingga tanpa sadar di sebuah kesempatan saya menyampaikan kepada seseorang saat dirinya hendak mengikuti sebuah seleksi kampus pemerintah, dengan nada becanda saya menyampaikan, “Memang kamu bisa diterima di kampus tersebut?” dan tanpa saya sadari  dia tersakiti atas ucapan tersebut dan mendo’akan saya tidak akan diterima di kampus negeri. Kejadian ini disampaikan oleh teman saya yang menyampaikan bahwa teman saya merasa tersakiti oleh ucapan saya pasca saya mengalami kegagalan di kampus-kampus tersebut, disebuah Hadits shahih disampaikan bahwa “Takutlah kepada doa orang-orang yang teraniyaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. [Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38]

Selain menyakiti perasaan orang lain, saya mengakui bahwa selama SMA saya seringkali bekerja sama di dalam ujian, bertukar jawaban adalah hal yang biasa, sehingga hal ini menjadi pembelajaran bagi saya bahwa pada akhirnya nilai hanya sebatas nilai jika dilakukan dengan cara yang tidak dibenarkan tidak akan memberikan keberkahan. Banyak hikmah yang bisa saya petik dari kegagalan ini, yaitu tentang rendah hati,menghindari menyakiti perasaan orang lain, tidak ada yang bisa di banggakan dari kesombongan hanya menunggu waktu semua yang dimiliki akan diambil oleh Allah SWT, kedua tentang kejujuran, sebuah hal yang sangat berharga, kejujuran memang mahal, tidak bisa diukur kemuliaannya, disinilah saya menyadari bahwa jujur adalah sebuah modal untuk mendapatkan keberkahan hidup, kemudian terakhir, yaitu apapun yang terjadi jangan pernah meremehkan, merendahkan atau menghina orang lain, seringkali mungkin niat kita bercanda tetapi kita tak pernah tahu hati seseorang merasa tersakiti atau tidak, sebaiknya diam atau menyampaikan sesuatu yang memang dirasa diperlukan. Kenangan kegagalan ini masih berbekas, dan semoga Allah SWT menolong saya untuk terhindari dari kesalahan yang sama di masa lalu.

Belajar dari Kegagalan