Memaknai Perjalanan Hidup

jalan

Seiring bertambahnya usia dan melihat segala realita yang terjadi seringkali berpikir di dalam hidup tentang makna hidup yang sesungguhnya. Secara teoritis hampir semua manusia yang hidup di dunia ini mengetahui makna hidup. Sejak kecil nilai-nilai makna hidup di ajarkan di bangku pendidikan. Agama pun menekankan makna hidup tentang hakikat manusia sesungguhnya, di dalam Islam sebagai agama yang saya anut menekankan bahwa hidup di dunia hanya sebagai jalan dan bukanlah tujuan, hidup di dunia hanyalah tempat persiapan untuk tujuan akhir.

Sebuah teori yang mudah di pahami, tetapi yang menjadi pertanyaan saya lalu dimanakah makna hidup yang di implementasikan di kehidupan nyata. Kehidupan saat ini sepertinya kabur, di dalam artian bahwa hidup yang ada dan di jalani saat ini oleh kebanyakan orang kontradiktif dengan apa yang mereka pahami sebagai teori.

Coba lihat sekeliling, seberapa banyak nilai teori yang di dapatkan saat pendidikan dan implementasi di kehidupan nyata. Apa yang di rasakan? Apakah banyak orang yang menikmati hidupnya menjadi seorang manusia seutuhnya, atau sekedar menjadi robot yang menjalani rutinitas dan menutup mata akan segala kejadian yang  terjadi di muka bumi ini.

Sekali lagi lihatlah, terlalu banyak manusia yang hidup di dalam egoismenya sendiri, dan mungkin tanpa saya sadari saya adalah bagian dari egoisme itu sendiri, hanya tentang memikirkan diri sendiri, dan hidup di dalam topeng bahwa telah memberikan yang terbaik untuk agama, masyarakat, dan segalanya.

Agama hanyalah sebagai tulisan tanpa makna di rumah-rumah atau identitas formulir atau hanya sekedar memuluskan langkah pribadi. Ada rasa sedih ketika merasa diri telah suci hingga menutup mata akan realita yang telah terjadi di luar sana, dengan dalih pembenaran bahwa dirinyalah yang terbaik.

Sebagai seorang muslim saya seringkalai sedih dengan diri ini sendiri karena belum mampu menjalankan secara sepenuhnya dan semaksimal mungkin  terhadap agama Islam, saya pun merasa belum bisa berkontribusi banyak terhadap kebangkitan Islam. Sedih saat muncul statement bahwa orang yang taat kepada agama-Nya adalah radikal, atau enggan untuk membuka diri, atau hanya sholeh untuk golongannya sendiri, tanpa di sadari bahwa lingkungan moral sudah semakin memburuk. Padahal banyak pendidikan dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi yang menggunakan kata ‘Islam’ di dalam lembaganya, tapi kembali lagi, lebih banyak hanya sekedar makna dan kurangnya penerapan di dalam nilai-nilai kehidupan.

Melihat sekeliling, di trotoar, jalanan. Terdapat pemuda yang hanya duduk nongkrong dan berharap dari sejumlah receh , memang bukan salah mereka, bisa jadi terdapat kesalahan saya karena belum mampu menjadi solusi atas permasalahan itu atau justru menamba h masalah tersebut. Kemudian bapak-bapak yang telah tua renta yang kemudian bertahan hidup hanya dengan tenaga sekedarnya untuk menafkahi dirinya, sedih karena belum bisa membantu banyak terhadap kondisi mereka. Atau Ibu-ibu yang sambil menggendong  anaknya berharap belas kasih orang sekitar yang melewatinya. Padahal mereka sama dengan saya, dan bahkan seorang presiden sekalipun, yaitu sama-sama seorang manusia yang hakekatnya memiliki perasaan .

Hidup di dunia ini adalah tentang sebuah siklus, sebuah siklus cepat yang tanpa di sadari cepat berlalu, semua kejayaan, kekayaan, rupawan , dan semuanya akan hilang. Dilema memang karena teori tersebut diketahui dan di pahami semua orang, tapi entahlah, apa yang membuat manusia menutup mata bahwa itu semua seolah-olah tidak akan terjadi pada dirinya.

Semua manusia tahu bahwa dirinya kelak akan meninggalkan dunia ini, dan mengetahui juga bahwa dirinya cepat atau lambat akan meninggalkan dunia ini, tapi seringkali manusia memasang topeng bahwa kejadian tersebut layaknya sebuah mimpi yang dinilai tidak akan terjadi pada dirinya. Banyak yang berusaha mempertahankan harta yang pada hakikatnya semuanya akan hilang.

Yah begitulah hidup, tanpa di sadari manusia hanyalah seolah-olah memiliki nilai sosial tinggi tapi hakikatnya banyak yang menutup mata akan realita yang terjadi. Mungkin banyak yang belum mengenal dirinya sendiri, sehingga banyak yang memasang wajah lain dari panggilan hatinya.

Lalu dari semua itu dimanakah posisi saat ini? Hanya diri masing-masing yang bisa bertanya secara jujur, tetapi yang pasti saya berharap melalui catatan pemikiran ini menjadi bahan evaluasi bagi diri saya pribadi bahwa hidup yang saya jalani masih harus banyak berkontribusi terhadap masyarakat. Pada akhirnya yang dinilai orang secara murni bukan pada jabatan atau posisi tetapi pada manfaat yang bisa diberikan. Wallahu’alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s