Obrolan di Gerbong Kereta

WhatsApp Image 2018-03-30 at 10.11.11.jpeg

Terakhir menaiki kereta api di Indonesia sekitar 5 tahun lalu, saat itu kondisi kereta api Indonesia sudah cukup baik, meskipun tidak sebaik saat ini, 5 tahun lalu kelas ekonomi tidak ada AC, para pedagang masih bisa masuk kedalam gerbong, dan stasiun belum tertata rapih seperti saat ini..

Hal yang paling membedakan dari perjalanan naik kereta di Indonesia dibandingkan di Belanda adalah “Human Interaction”. Di Belanda sulit ditemukan penumpang kereta mengobrol dengan orang asing yang baru ditemui, mereka hidup dengan “dunia”nya sendiri, justru mengajak ngobrol dan menawarkan makanan-minuman ke penumpang lain adalah hal tabu. Bertolak belakang dengan suasana yang didapat dari perjalanan kereta api kali ini.

Karena ada pelatihan yang diminta oleh kantor ke Jogja, akhirnya menjalani perjalanan kereta api pertama sejak 5 tahun lalu, perjalanan yang cukup panjang sekitar 8 jam. Beberapa buku sudah direncanakan untuk diselesaikan menemani perjalanan karena dari kantor yang berangkat dari Jakarta hanya sendirian, jadilah membaca buku adalah opsi terbaik untuk menghabiskan waktu perjalanan.

Saya duduk di gerbong 3, no 8C, duduk di kursi 3 orang, berhadap-hadapan, sehingga sekitar 6 orang di area tersebut. Awalnya saya tidak mau ngobrol, diam saja, baca buku, tidur, tetapi diskusi di area tempat 7ABC dan 8ABC, memancing saya untuk ikut ngobrol dengan penumpang lainnya.

Obrolan dari hal sederhana: asal, aktifitas, pekerjaan, tempat tinggal, tujuan, hingga obrolan yang membuat berpikir: Kenaikan barang bahan pangan, pemilihan Ketua RT yang di duga menggunakan ilmu gaib dari Banten, hingga ujian didalam berkeluarga, tentang tetangga yang mengusik hubungan pernikahan, dan ujian perselingkuhan.

Menarik memang kehidupan di Indonesia, satu sisi Indonesia bukanlah dikategorikan negara maju/paling bahagia di dunia, tetapi justru hal ini bukan berarti Indonesia tidak bisa menikmati kehidupan sosialnya, warga Indonesia masih bisa hidup dengan caranya, berdiskusi dan bercerita. Hal yang belum tentu didapat dari negara maju/paling bahagia di dunia sekalipun.

Terinspirasi dari Buku David and Goliath karangan Malcolm Gladwell menyampaikan bahwa tingkat bunuh diri terjadi justru paling banyak di negara maju, padahal bisa dibilang orang miskin di negara maju kurang lebih setara dengan kelas menengah di negara miskin, tetapi tekanan yang diterima ‘kelas bawah’ di negara maju menyebabkan mereka terasa terisolir seolah mereka bukan bagian dari komunitasnya karena ‘kelas bawah’ adalah kaum minoritas di negara maju.

Lalu apa hubungannya dengan obrolan di kereta? Setidaknya dari fakta yang ditampilkan oleh Malcom Gladwell memberikan gambaran bahwa kebahagian dan interaksi sosial tidak selalu sejalan dengan banyaknya materi atau persentase matematis. Hidup materialistis justru yang saya dapatkan mengajarkan manusia berlomba-lomba untuk hidup demi dirinya, enggan berinteraksi karena rasa takut dan khawatir.

Lihatlah warga perkampungan dan desa, mungkin mereka tak hidup mewah dalam perspektif banyaknya uang yang dimiliki, tapi mereka bahagia dengan kekurangan yang dinilai oleh orang yang berpandangan materialistis

KA. Bengawan. 220318

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s