Menemukan Semangat Baru

WhatsApp Image 2018-04-02 at 13.26.57.jpeg

Air yang jernih adalah air yang mengalir, ia tidak diam disatu tempat, mengalir dari satu titik ke titik yang lain. Prinsip ini yang kemudian selalu ditanamkan saat dulu memulai proses pembinaan, murabbi selalu berpesan untuk tak berhenti menjadi seorang pendengar ilmu, tapi berusalah menjadi seorang da’i, dengan segala keterbatasan, berusahalah untuk bisa membina.

Pasca kelulusan, sekitar 4 tahun yang lalu, kemudian memasuki kehidupan nyata, melihat realitas kondisi masyarakat sekitar hingga lingkungan kerja, memaknai proses pembinaan ternyata tidak lebih mudah dibandingkan di sekolah dan kampus. Memulai itu relatif lebih mudah, tetapi menjaga dan mengembangkan semangat pembinaan hingga akhir hayat adalah tantangan yang sebenarnya.

Banyak realitas yang dihadapi sehingga seringkali menjadi pragmatis. “Yasudahlah, yang penting bisa tetap liqo/mentoring, udah cukup, toh bertahan pembinaan aja sudah sebuah prestasi“. Semangat ‘air mengalir’ hanya sebatas untuk konsumsi pribadi. “Enggak usah muluk-muluk, jadi sholeh pribadi aja udah susah, kerjaan pulang malam, udah capek, jangankan memikirkan untuk membina, menjaga diri aja udah perjuangan tersendiri“.

Kemudian tercipta dalih dan alasan betapa beratnya untuk bisa membina, jika pemikiran yang sama ini juga dimiliki oleh mayoritas eks-mentor atau eks-murabbi kampus/sekolah, maka jangan heran pemuda dan pelajar saat ini hanya disibukkan dengan pengejaran ambisi pribadi, pelajar-pemuda apatis, yang penting lulus, karir bagus, selesai tugas.

Muncul paradigma eks-mentor dan eks-murabbi kampus/sekolah untuk menguatkan argumen era informasi bahwa “Ngapain sibuk-sibuk turun membina, udah ada para ustadz-ustadz yang mempunyai kapasitas, udah banyak kajian dan video yang bisa ditonton, cukup mengakses youtube-facebook dan kanal media sosial lainnya maka semua sudah terwakilkan.” Satu sisi pernyataan ini benar, tapi disisi lain seperti mencuci tangan, enggan turun, merasa kapasitas rendah, lalu “menikmati” sebagai objek dakwah, lalu mengubur komitmen subjek dakwah yang melakukan pembinaan untuk generasi muda, kalaupun ada permasalahan, lalu muncul dengan argumentasi seolah menyalahkan sistem, dengan dalil-dalil sebagai justifikasi.

Selepas kepulangan studi, dan pengalaman kerja, mulai kembali menyusun mimpi-mimpi, tentang komitmen, tentang prinsip-prinsip hidup yang pernah digelorakan, tentang sebuah harapan akan perbaikan generasi dari sebuah lingkup yang kecil, tentang apa yang pernah dicita-citakan, membuka kembali lembaran yang pernah terserak diantara paper-paper dan lembaran kerja, yang tertumpuk diantara buku-buku studi dan target pencapaian ambisi pribadi.

Memulai kembali sebuah lembaran baru, bertemu dengan para pemuda yang dulu saya pernah diposisi mereka. Sudah 4 tahun lebih tidak membina, masih ada kaku untuk kembali menatap wajah-wajah mereka, terkadang kata yang terucap terlalu cepat, seringkali diam karena mencoba mengingat istilah yang jarang dibuka-buka, dengan segala keterbatasan mencoba kembali menjadi bagian dari subjek pembinaan.

Mendengar cerita mereka, tentang perjuangan membantu orang tua sebagai pedagang keliling, tentang perjuangan menjadi tulang punggung keluarga karena ayahnya yang sakit, dengan segala keterbatasan ekonomi dan tantangan lainnya, tersimpan harapan akan perbaikan diri, harapan mereka terhadap proses pembinaan agar mereka tak terjerumus di lingkungan yang salah.

4 tahun lebih seperti ada bagian yang telah lama terkubur dari pencapaian pribadi, dari semua impian yang sekedar memperbaiki diri, untuk mencapai jenjang karir tertinggi, tapi kemudian selalu ada cara Allah SWT untuk mengingatkan kembali tentang apa hakikat diri kita diciptakan.. ‘Nahnu Du’at Qabla Kulli Syai’in

Semoga semangat ini terus tumbuh, seiring lahirnya generasi-generasi baru, dan selalu mendapatkan semangat baru untuk memperbaiki dan membenahi diri agar hidup tak hanya sekedar mengisi waktu hingga menuju Ilahi.. ‘Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik‘.

MUI. 01042018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s